Siswa Jalur Zonasi Juga Berpotensi

Pelatihan hari ke-2 di Kelas IPA SMAN 1 Kediri

Banyak persoalan yang
menjadi keluhan sekolah ketika sistem zonasi diterapkan dalam proses penerimaan
siswa. Sekolah yang dulunya hanya menerima siswa-siswa dengan kriteria baik
secara akademik, kali ini ditantang untuk dapat mengelola input yang
bervariasi. Tidak hanya tentang kemampuan dalam belajar, variasi juga terjadi
pada karakteristik dan motivasi siswa.

Persoalan ini juga
dialami oleh sekolah yang merupakan klien Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP), salah satunya adalah
SMA Negeri 1 Kediri. Mereka mendapatkan beberapa siswa yang mengalami kesulitan
beradaptasi dalam menyerap materi pelajaran yang diberikan guru. Selain itu,
para siswa tersebut juga mempunyai motivasi yang tidak terlalu kuat untuk
berpartisipasi dalam proses belajar. Mereka kadang lebih suka nongkrong
di kantin, tempat parkir, hingga tidak mengumpulkan tugas belajar. Berdasarkan
dari hasil  observasi pihak sekolah, sebagian besar dari siswa-siswa tersebut adalah mereka
yang masuk dari jalur zonasi. Simpulan ini didapatkan, karena sebelum sistem
zonasi diberlakukan, persoalan serupa tidak pernah terjadi.

PTPP sebagai lembaga
yang menjadi partner atau konsultan dari SMA yang bersangkutan, berusaha
mencermati data yang diberikan oleh pihak sekolah. PTPP memegangh prinsip bahwa setiap anak
diciptakan dalam kondisi sempurna dengan keunggulan masing-masing. Berbekal
spirit ini, ditemukan hukum sebab akibat yang bisa berbolak-balik. Perilaku
yang tidak kooperatif dengan pembelajaran tidak selalu merupakan dampak dari
sistem zonasi. Kemungkinan yang terkuat adalah perilaku tersebut dipicu sebagai
kompensasi atas persepsi siswa dari jalur zonasi atas kemampuan mereka sendiri. Anggapan
orang dan kesulitan mereka dalam menyesuaikan diri dengan anak yang punya
prestasi akademik lebih baik, membuat mereka lebih memilih menarik diri.
Perilaku tidak kooperatif menjadi alternatif yang lebih terhormat daripada
mengikuti proses belajar dan berusaha mengumpulkan tugas tetapi dinilai tidak
baik dan dianggap bodoh. Kembali lagi hal ini berkaitan dengan perlakuan
sekolah yang perlu dibenahi secara sistemik.

Namun untuk SMA Negeri 1
Kediri, telah mengambil langkah yang sangat bagus. Mereka melakukan berbagai
upaya untuk mendukung keberhasilan belajar siswa dari jalur zonasi. Keberadaan
guru pendamping kelas, menyebut para siswa dengan kelas excellent,
hingga meminta konsultan (dalam hal ini PTPP) untuk menjadi pendamping bagi
keberhasilan belajar mereka. Karena itulah, pihak sekolah meminta PTPP untuk
melakukan serangkaian kegiatan, dan salah satu yang sudah terselenggara sebagai
awalnya adalah pelatihan untuk siswa jalur zonasi.

Tentu saja pelatihan ini
diawali dengan identifikasi kebutuhan yang bersumber dari informasi guru dan
pengelola siswa zonasi. PTPP
mendapatkan informasi profil para siswa sebagai input yang akan dikelola
melalui pelatihan. Dari hasil identifikasi kebutuhan, PTPP memberikan pelatihan
penguatan konsep diri siswa.

Pelatihan Penguatan Konsep Diri Siswa Zonasi

Pelatihan hari ke-1 kelas IPS SMAN 1 Kediri

Pelatihan penguatan konsep diri untuk siswa zonasi
di SMA Negeri 1 Kediri dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu untuk kelas IPS dan IPA.
Masing-masing sesi membutuhkan waktu 4 jam, sehingga pelatihan ini dilakukan dalam dua hari.

Hari pertama diawali
dengan kelas IPS yang menjadi pesertanya, kemudian di hari kedua barulah kelas
IPA juga memperoleh pelatihan yang sama. Selama proses pelatihan, fasilitator
tetap melakukan pengamatan untuk melihat keterlibatan siswa dalam belajar.
Beberapa anak memang
mengalami kesulitan untuk menyerap materi yang diberikan. Namun dengan sistem mentoring
kelompok dan bimbingan langsung dari fasilitator, siswa yang mengalami
kesulitan dapat memperoleh pemahaman yang sama. Selebihnya, siswa-siswa jalur
zonasi punya potensi yang tidak kalah bagusnya dengan anak-anak yang lain.

Sesi pelatihan terdiri dari
tiga bagian. Pertama, siswa mendapatkan materi pengenalan diri. Dengan
mengenali dirinya, mereka akan mengidentifikasi keunggulan atau kekuatannya.
Keunggulan ini selanjutnya dapat menjadi modal yang diberdayakan untuk belajar.
Sesi kedua, peserta diajak untuk membuat visi dalam hidupnya. Mereka diberikan
keleluasaan untuk bermimpi dan membangun cita-citanya. Mereka melakukan
wawancara untuk majalah
masa depan dan membuat pidato undangan reuni di tahun 2030. “Dengan melakukan
proyeksi melalui cara-cara yang imajinatif, diharapkan siswa lebih membuka diri
untuk membuat impian setinggi-tingginya”, demikian kata Rudi Cahyono yang
menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut. Sesi ketiga, peserta dibimbing
untuk membuat rencana aksi selama sepuluh tahun ke depan. Mereka diminta
membuat kegiatan utama di setiap tahunnya, mulai dari 2020 sampai dengan 2030.
Rancangan aksi ini akan menjadi panduan untuk melihat progres yang dibuat oleh
siswa. Evaluasi pencapaian didampingi oleh PTPP dan pihak sekolah.

Selama dua kali
pelatihan, peserta mendapatkan kesan positif atas kemajuan yang mereka peroleh.
Peserta menjadi semakin mengenali potensi atau kekuatannya. Dengan demikian
hal ini menjadi modal mereka
untuk lebih percaya diri dalam belajar serta menuju kepada cita-citanya.

Untuk agenda yang akan datang, nantinya akan ada tindak lanjut dari hasil pelatihan
kali ini, selain itu
PTPP juga merancang kegiatan untuk pelatihan penalaran bagi siswa kelas
percepatan (rudicahyo/Lala).