Saling Selami Diri Melalui Welcome Party

Yeay, selamat datang adik baru! Selamat datang keluarga baru! Senang rasanya bisa menyambut anggota baru kami, yakni Magangers 6.0 dalam acara “Welcome Party” yang diadakan pada tanggal 30 Desember 2015 lalu. Berbagai kegiatan dan permainan disuguhkan dalam acara ini. Wah, kira-kira ada apa saja ya?

Welcome party, salah satu kegiatan yang sudah tidak asing lagi bagi mereka yang baru saja bergabung dengan suatu tim ataupun organisasi. Tidak mungkin rasanya jika ingin menjalin kerjasama dalam tim namun tak saling mengenal satu sama lain. Hal inilah yang kemudian melandasi diadakannya acara Welcome Party demi mengemas sebuah perkenalan kecil-kecilan. Acara yang diadakan sore hari dan bertempat di ruangan Gifted itu berlangsung cukup asyik dan menyenangkan. Acara dimulai dengan memberikan sedikit kejutan terlebih dahulu kepada para adik baru. Mereka disambut dengan letusan beberapa buah balon ketika memasuki ruangan gifted. Permulaan yang sontak membuat beberapa dari kami menjerit karena terkejut, namun adapula yang saling menertawakan satu sama lain.

Acara sore itu dibuka oleh salah satu Magangers 5.0 yang saat itu berperan sebagai Master of Ceremony. Sebelum memasuki acara inti, kegiatan dimulai dengan pemberian sambutan oleh PIC kegiatan Oprec Magangers 6.0, Dilla dan kemudian dilanjutkan oleh Bapak Rudi selaku Direktur PTPP.

Setelah ucapan selamat datang serta beberapa gambaran mengenai asyiknya menjadi anak magang telah disampaikan, saatnya menyegarkan suasana dengan sebuah permainan ringan. Permainan ini digagas dan dipandu secara langsung oleh Pak Rudi. Mula-mula tiap peserta mendapatkan masing-masing satu buah kertas hvs. Di sini, peserta tidak terbatas hanya anak magang saja, melainkan staff dan Direktur PTPP turut memeriahkan permainan ini. Kemudian tiap peserta diminta untuk menuliskan nama lengkap peserta, tanggal lahir, ciri khas diri, kesan bergabung dengan PTPP serta keinginan ataupun hal yang telah didapatkan ketika bergabung dengan PTPP.

Kecerian selama WP berlangsung
Kecerian selama WP berlangsung

Setelah seluruh peserta selesai menulis, Pak Rudi menginstruksikan untuk mengatupkan kertas tersebut pada bibir masing-masing peserta dengan posisi tulisan menghadap ke depan. Tugas berikutnya adalah tiap peserta diminta berkelompok sesuai dengan bulan kelahiran yang telah ditentukan. Peserta hanya diperbolehkan untuk menginformasikan bulan lahir mereka dari tulisan yang ada di kertas masing-masing dan tidak diperkenankan berbicara satu sama lain.

Ketika sudah berada dalam kelompok, tiap peserta diminta untuk memperkenalkan dirinya dan menyampaikan apa yang telah dituliskannya dalam kertas, yaitu mengenai nama, tanggal lahir, ciri khas diri, serta kesan dan pesan bergabung dalam PTPP. Pada tiap kelompok, masing-masing peserta memiliki kesempatan untuk menjadikan dirinya lebih terbuka serta lebih mengenal peserta lainnya. Kelompok kemudian diacak lagi sebanyak 3 kali. Dengan adanya variasi dalam pembagian kelompok ini, diharapkan setiap peserta akan secara merata bertemu dengan orang yang berbeda. Sehingga keseluruhan peserta diharapkan bisa mengenal dan mengetahui tentang diri antar peserta dengan baik.

Tak sampai disitu saja, setelah keseruan yang didapatkan melalui game perkenalan, kegiatan beralih pada  proses refleksi yang dilakukan sambil menyantap gorengan dan camilan bersama-sama. (Psst, ini juga jadi salah satu kegiatan favorit yang kami lakukan di kantor) Hal ini untuk mengonfirmasi seberapa jauh makna dari permainan yang telah mereka lakukan serta mengakrabkan diri dengan peserta yang mungkin saja belum sempat dikenal ketika game berlangsung. Beberapa anak diminta untuk menyampaikan apa yang didapatkannya dari permainan tersebut mulai dari Magangers 5.0, Magangers 6.0, hingga para staff pun ikut menyampaikan pendapatnya.

Proses refleksi setelah games perkenalan
Proses refleksi setelah games perkenalan

Ada yang berpendapat bahwa yang didapatkan ketika magang di PTPP adalah keluarga baru, ada yang berpendapat bahwa PTPP adalah sarana belajar sekaligus bekerja dan ada pula yang berpendapat bahwa yang didapatkan adalah berat badan yang bertambah karena sering makan dengan teman-teman. Tak sedikit juga dari mereka yang menyampaikan bahwa mereka cukup mendapatkan gambaran mengenai sifat yang khas dari masing-masing anak. Dengan informasi seperti ini, diharapkan kedepannya  dapat menjadi bekal keluarga baru kami, yakni Magangers 6.0 sebelum mereka benar-benar menyelami hari-hari di PTPP.

Sembari bercanda, membuat proses refleksi terasa lebih santai
Sembari bercanda, membuat proses refleksi terasa lebih santai

Sudah puas mengisi perut dan mendapatkan cukup banyak informasi baru dari proses refleksi, acara kemudian ditutup dengan do’a serta foto bersama yang mana kegiatan ini menandai bahwa acara Welcome Party yang digelar kecil-kecilan pada sore itu telah selesai.

Lalu, apa sih kata mereka tentang Welcome Party Magangers 6.0?

Lumayan seru, tetapi waktu yang ada kurang lama sehingga maksud permainan belum tersampaikan secara maksimal (Nurfi)

Lebih fresh daripada welcome party yang pernah diadakan sebelumnya (Dinda)

Menyenangkan dan bisa mengakrabkan antar magang, maupun staf dan kepala PTPP melalui game perkenalan yang dibuat seseru mungkin untuk mengenal lebih dalam satu sama lain (Dilla)

Bangga karena PTPP mempercayakan saya sebagai Magangers 6.0 dan saya siap belajar untuk masa depan saya juga. Sambutan sederhana dan hangat membuat rasa kekeluargaan lebih terasa (Yogie)

Sedih nggak bisa ikut Welcome Party karena waktu itu ada rapat. Huhuhu. Ntar tahun depan aku ikut Welcome Party bareng Magangers 7.0 dooong (Gadis)

Senang bisa diterima di PTPP, awalnya masih agak malu-malu soalnya cuma kenal beberapa aja, terus waktu game kena pembagiannya sering sama Magangers 6.0 sendiri jadi kurang dapat kesempatan berbaur dengan Magangers 5.0 ataupun staf (Ayu)

Adik baru a.k.a Magangers 6.0
Adik baru a.k.a Magangers 6.0

Inilah wajah-wajah yang bakal kalian temui di PTPP :)
Inilah wajah-wajah yang bakal kalian temui di PTPP 🙂

Wah, ternyata acara seringan itu cukup memberi impact yang baik ya! Sekali lagi kami sampaikan HAI KELUARGAA BARUU!! Selamat bergabung dan berjuang bersama kami di PTPP. Jangan lelah untuk terus belajar dan mengembangkan diri ke arah yang lebih baik lagi! SEMANGAAAAT TEMAN-TEMAN!! 🙂

[Fita/Nisa]


Transformasi dari Tester ke Trainer

Salah satu materi dalam on the job training (OJT) magang 6.0 Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP) adalah skil menjadi trainer. Untuk itu, PTPP memberikan keterampilan dasar sebagai trainer bagi anak magangnya. Bersama Ken Sasmita, seorang fasilitator nasional, kami belajar bersama.

Tertawa lepas dari para peserta training membahana di seluruh ruangan. Sesekali teriakan mereka meletup sampai menembus sekat-sekat ruang. Ya, begitulah semangat para peserta training dengan tajuk materi “Kemampuan Dasar Menjadi Trainer”.

Kenapa disebut ‘kemampuan dasar’. Karena pada salah satu rangkaian acara OJT dari magang 6.0 PTPP, mereka mendapatkan bekal dasar sebagai trainer. Bersama master fasilitator nasional, Ken Sasmita, para magang belajar bersama.

Meskipun OJT kali ini dikemas dan dipersembahkan untuk magang 6.0, tapi khusus untuk acara training kemampuan dasar menjadi trainer semua magang diikutkan, yaitu magang 5.0 yang sedianya menajadi panitia, magang 6.0 yang memang sebagai sasaran utama, dan juga ditawarkan untuk diikuti para alumni magang 4.0. Jadilah suasana training sangat heboh, disamping karena banyaknya peserta, juga karena ada nuansa reuni diantara mereka.

Tepat pukul 08.30, acara dibuka oleh Direktur PTPP, Rudi Cahyono. Beliau menyampaikan harapannya, agar para magang PTPP mendapatkan kemampuan lebih sebagai pribadi, dan juga sebagai ilmuwan psikologi maupun psikolog nantinya. Karena itu, para magang seharusnya tidak hanya  bisa memandu tes saja, tetapi juga bisa mengelola forum. “Minimal bisa mengelola orang lain. Karena ilmuwan psikologi atau psikolog adalah seorang people helper yang pekerjaannya adalah menolong orang lain dengan dirinya. Terutama skill mulutnya”, demikian imbuh Rudi.

Selanjutnya, waktu diberikan kepada sang trainer, Ken Sasmita. Mas Ken (panggilan akrab Ken Sasmita) mangawali  dengan bercerita tentang pengalamannya pertama kali menggeluti bidang training. Ternyata pengalman Mas Ken diawali dengan menjadi seorang tata kelola panggung, manajemen teknis, bahkan sampai tukang foto dan shooting video. Seiring berjalannya waktu, ia diberikan peran yang mulai berhubungan dengan mengelola forumnya. Jadilah ia pemandu energizer, ice breaking, pembuka pertemuan, dan mereview hasil belajar. Itulah peran kecil yang mengawali Ken Sasmita menjadi seorang fasilitator nasional saat ini. Cerita ini sengaja ia sampaikan, agar para peserta termotivasi untuk menggeluti dunia training.

Sebelum memasuki materi, peserta diajak bermain dengan permainan perkenalan. Setiap orang menggambar wajahnya sendiri. Semua gambar dikumpulkan dan ditaruh di lantai. Peserta berdiri mengelilingi gambar tersebut. Mereka diajak bernyanyi sambil mengelilingi gambar tersebut. Sampai ketika Mas Ken bilang berhenti, mereka mengambil satu gambar yang paling diinginkan. Secara bergiliran, peserta menceritakan orang yang gambarnya ia pegang. Selanjutnya penjelasan di-cross check kepada orang yang bersangkutan. Selanjutnya, gantian orang tersebut menjelaskan ciri khas gambar yang sedang ia bawa. Demikian seterusnya sampai selesai. Sebuah cara berkenalan yang unik dan mendalam.

Setelah bermain game perkenalan, sebagai materi pertama, Mas Ken mengenalkan tentang keterampilan dasar mengelola forum. Untuk itu, Mas Ken mangajak empat orang untuk berpartisipasi, mencoba menjadi seorang trainer. Secara bergantian, empat orang tersebut menunjukkan kebolehannya. “Keempatnya bagus…”, demikian kesan Mas Ken setelah keempat orang tampil. Akan tetapi, Mas Ken menjaring masukan dari para peserta untuk lebih memperkaya keterampilan yang sudah dipelajari. Para peserta memberikan masukan, apa yang sudah baik dan apa yang harus diperbaiki.

Materi selanjutnya diberikan setelah break pertama. Materi tersebut adalah bagaimana membuka pertemuan. Kembali Mas Ken mengundang empat peserta untuk memperagakan membuka pertemuan. Mas Ken membagi empat orang menjadi dua kelompok. Setiap kelompok berdiskusi untuk membuka pertemuan forum kepala sekolah dan forum orangtua. Sebagai penyempurna dan untuk memetik pelajarannya, Mas Ken mengundang peserta yang lain untuk berkomentar dan memberikan masukan.

Materi yang tearkhir adalah bagaimana mereview dan membuat umpan balik dari hasil belajar. Peserta diberikan teknik bagaimana membuat desain reveiw dan umpan balik yang menarik.

Sebagai tambahan, peserta juga mendapatkan tips dan trik mengelola peralatan, teknik micing atau menggunakan mic, pengelolaan audio dan berbagai hal teknis lainnya. Peserta juga diberikan kesempatan untuk bertanya.

Di akhir pertemuan, peserta mengungkapkan kesannya sebagai peserta. Selain menjadi contoh bagaimana membuat review hasil belajar, Mas Ken juga menggunakan kesempatan tersebut untuk menggali kesan peserta terhadap hasil belajar. Mas Ken menanyakan tentang menu makanan yang disantap oleh peserta. Menu makanan tersebut kemudian dikaitkan dengan rasa dari pembelajaran yang telah diperoleh hari itu. Kata Mas Ken, ini cara yang mudah agar orang tidak langsung berpikir analitik menggunakan otak kiri. Agar orang bersukacita untuk berpartisipasi, yang harus disentuh awalnya adalah otak kanannya, baru ke otak kiri.

Pertemuan inspiratif hari itu ditutup kembali oleh Rudi Cahyono dengan sebuah pesan untuk menjadi diri sendiri. “Agar kita bisa menjadi seorang ahli atas ilmu yang kita miliki, maka kita harus menjadi diri sendiri. Itulah kenapa kita sangat berbeda antara di ruang karaoke dan ruang kelas. Kita begitu terlihat sangat ahli di ruang karaoke, tetapi menjadi layu di kelas. Kenapa itu bisa terjadi? Karena di ruang karaoke, kita menjadi diri sendiri”, begitu pesan dari Rudi [/ptpp].


Selamat Tahun Baru 2016

tahun baru


Siapakah Sosok Ibu Di Mata Kita?

IBU. Ia dikuatkan bahunya untuk menjaga sang buah hati. Dilembutkan hatinya untuk memberi rasa aman, dan diteguhkan kepribadiannya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah.

IMG_9337

Siapakah Sosok Ibu di Mata Kita?
Siapa yang tidak mengenal namanya? Bahkan saat namanya disebut, wajah seseorang yang selama ini mengasuh kita akan seketika muncul dalam pikiran.

Semesta mengenal kata ibu, meski dengan bahasa yang berbeda. Beberapa makhluk hidup mungkin menyebutnya sebagai induk. Sedangkan manusia, akan menyebutnya dengan berbagai penggilan.

Begitu besarnya perngorbanan seorang ibu, sampai diistimewakan harinya. Mereka memiliki hari yang disebut sebagai “hari ibu”. Pada hari itu, seorang ibu banyak mendapatkan pujian. Pada hari itu, seorang ibu banyak menuai kata-kata manis.

Karena itu, dalam rangka Hari Ibu, Saya mencoba bertanya pada teman-teman saya di PTPP, tentang apa arti ibu sesungguhnya. Makna ibu membanjir dengan berbagi kata dan istilah dari mulut teman-teman saya. Berikut petikan arti ibu menurut mereka:

“My everything. Tempat kita belajar banyak hal. Ibu merupakan Role model bagi saya.” (Nurfi)

“Orang pertama yg akan selalu tau apa yg terjadi pada kita, tanpa kita bilang sekalipun.” (Dinda)

“Ibu itu wonder woman. Wanita yang kuat dan tangguh. Wanita yg tulus ,merawat, menyayangi, mencintai, menerima kekurangan, mendidik, dan memahami anaknya dalam beproses.” (Nyoman)

“Yang menyayangiku, yang merawatku waktu sakit, yang melahirkan, yang suka bergosip denganku, yang telpon aku kalau malem aku belum pulang, yang manggil dari luar rumah kalau aku lagi sama temen main diluar.” (Putri)

“Mengajarkan arti ketulusan, melalui kasih saying. Meski marah, tetep peduli dan tak pnh hilang tulus kasihnya. Meski orangnya ga ada, masih terasa kaih sayangnya..” (Dilla)

“Segalanya buat aku. Hidup aku. Yang selalu ada buat aku. Sosok yang selalu aku idolakan.” (Mika)

“Pahlawanku, lentera hidupku.” (Hakim)

“Wanita yg patut dicontoh. Kasih sayangnya tulus, dan kasih ibu tak terhingga sepanjang masa. Nggak bisa diungkapkan dgn seribu kata. Ibu itu penuh ketulusan, role model bagi anaknya, sosok wanita penyayang yg akan melakukan apapun demi anaknya.” (Nindi)

“Ibu adalah rumah. Sekolah pertama untuk anak-anaknya. Contoh yang baik. Yang mengerti masing-masing anaknya satu persatu. Yang tidak pernah berhenti mencurahkan kasih sayang dan tenaga untuk kesuksesan keluarganya. Yang tidak pernah lelah meski sering marah. Ibu adalah segalanya bagi setiap anak.” (Sasa)

Ibu merupakan pegangan, tempat bersandar, pengingat, dan rumah tempat kembali segala suka dan sedih.” (Rudi)

“Ibu mampu menjadi sosok yang kuat dengan hati yang lembut dan paras yang indah seperti pohon dengan batang yang kuat, daun yang lembut, dan bunga yang indah.” (Antero)

“Ibu ibarat sebuah rautan pensil dan penghapus. Saya baginya adalah pensil. Tanpa ibu saya takkan memiliki manfaat apa-apa. karena tanpa diraut oleh ibu, saya tidak akan bisa sebermanfaat seperti ini. karena tanpa dihapus oleh ibu, saya hanya akan menyesali kesalahan yang saya perbuat. Satu ungkapan untuk ibu, terima kasih.” (Ghozi)

Bahkan ada yang tidak sanggup mengungkapkan arti ibu. Baru mengingatnya saja, ia sudah menitikkan air mata.

Begitu berharga sosok ibu dalam kehidupan kita. Semoga kata-kata manis tak hanya berhenti di ujung lidah. Hanya terucap saat di hari-hari tertentu saja. Tentu kasih sayang kita tak hanya berakhir di ujung galah, sebagaimana kasih sayang ibu kepada anaknya. Selamat hari ibu.

Lalu, apa makna ibu buat Kamu?

(Sasa/Antero)


Selamat Hari Ibu

hari ibu


Belajar Observasi, Mengasah Kepekaan Memadukan Data dan Teori

Observasi atau mengamati adalah salah satu cara untuk mengumpulkan data. Dalam Bidang Psikologi, yang diamati adalah manusia yang lebih kompleks daripada benda. Untuk itu, diperlukan belajar observasi, terutama dengan mengasah kepekaan memadukan data dan teori.

Jumat sore, kami (staf dan magang) belajar bersama untuk mengembangkan keterampilan dalam mengobservasi. Acara semacam ini memang biasa kami lakukan untuk mengembangkan kualitas sumber daya, terutama para magang kami.

Tetap dengan suasana santai nan ceria, kami belajar bagaimana cara melakukan observasi. Kali ini, kami akan share bagaimana kami belajar mengobservasi. Semoga bermanfaat buat yang bingung bagaimana cara sederhana belajar observasi.

Pertama, kami bagikan sebuah form yang berisi aspek-aspek yang akan diamati. Ada aspek pemahaman, kemampuan analisis, daya tahan, ketelitian, stabilitas emosi dan seterusnya, tidak kurang dari 13 aspek yang harus diamati. Selain aspek amatan, pada form tersebut ada kolom-kolom untuk mengisikan nama orang yang akan diamati. Nah, kali ini mereka belajar mengamati teman mereka sesama anak magang. Mereka tinggal memberikan penilaian dalam bentuk 7 skala KS (Kurang Sekali), K (Kurang), C- (Di bawah Cukup atau Di bawah Rata-rata), C (Cukup), C+ (Lebih dari Cukup), B (Baik), dan BS (Baik Sekali).

Sebagai awal, kita pakai satu orang lebih dulu. Jadi semua peserta membuat catatan tentang salah seorang temannya dalam 13 aspek yang ada di form. Kemudian tiap aspek dibahas berdasarkan penialain yang diberikan tiap orang. Pemeberi nilai memberikan alasan penilaiannya, termasuk orangnya sendiri atau orang yang sedang dinilai. Kemudian hasilnya dicocokkan, termasuk memadukan alasan dari masing-masing orang.

Alasan justifikasi dirangkum hingga menjadi rumus atau cara dalam menentukan justifikasi dalam observasi. Rangkuman dari hasil belajar mengobservasi satu orang, diaplikasikan untuk mengobservasi teman-temannya yang lain. Kemudian dijadikan tips dalam mengobservasi

Bagaimana strategi atau tips mengobservasi orang?

  1. Gunakan varian data yang banyak

Dalam proses belajar observasi, kadang kita menggunakan hanya satu data untuk membuat simpulan. Misalnya, mengatakan seseorang dapat bekerja secara teliti, hanya dari satu pengalaman kerja. Kalau menggunakan banyak data, coba dicek apakah datanya sejenis atau variatif. Misalnya saja, mengatakan seseorang dapat bekerja dengan teliti dari pengalaman menyaksikan temannya tersebut ketika menjilid laporan. Jika ia mengalami satu kali menjilid laporan, berarti hanya menggunakan satu data. Jika menggunakan beberapa kali pengalaman menjilid laporan, berarti menggunakan banyak data tapi tidak variatif. Yang paling ideal, gunakan banyak data dengan berbagai varian konteks

  1. Buat pola dan konsistensi datanya

Jika data terkumpul, maka perlu membuat pola antar data. Mengacu pada contoh sebelumnya, berarti kita perlu melihat konsistensi antar data. Konsistensi berarti keajegan data. Misalnya tentang ketelitian. Jika muncul dalam konteks kerjaan menjilid laporan, maka kita lihat, apakah muncul pada konteks yang lain. Semakin banyak variasi kerja yang berhubungan dengan ketelitian, atau memberikan nilai positif untuk aspek ketelitian, maka justifikasi terhadap orang tersebut semakin mengarah kepada ‘orang teliti’.

2. Gunakan teori untuk menghubungkan antar aspek

Bagian ini yang paling menarik. Observer mengisi aspek-aspek yang sudah kuat datanya. Misalnya dari 13 aspek, ada 3 aspek yang sudah kuat datanya. Ambil contoh aja tentang ketelitian, kalau sudah ada data yang kuat, maka bolehlah kita memberikan penilalian. Begitu juga dengan aspek-aspek lain. Jika ada 3 aspek yang sudah diberikan penilaian, kita lihat apakah ketiganya berhubungan. Jika berhubungan , maka kita sudah bisa langsung mencari aspek terkait yang belum mendapatkan nilai. Biasanya aspek yang terkait akan berhubungan nilainya. Misalnya seseorang mendapatkan nilai kecepatan kerja bagus, tetapi ketelitian rendah. Maka dengan bahasa awam bisa asaja kita bilang orangnya ceroboh. Tetapi memberi label ceroboh sangat gegabah dan tidak bijaksna. Kita perlu memastikan apakah ketidaktelitian itu berhubungan dengan kemampuan atau kemauanmendeskripsikan orang tersebut dengan 3 aspek sa. Kita bisa cek aspek yang berhubungan, misalnya aspek emosi yang dapat berpengaruh pada kinerja yang berhubungan dengan ketelitian. Kita amati orangnya lagi, apakah ia memiliki stabilitas emosi yang bagus atau orang-orang yang naik turun dan gampang galau. Jika emoasinya memang tidak stabil, maka kecepatannya berhubungan dengan ketergesahan/tergopoh-gopoh, sedangkan hasilnya banyak yang salah, yang menunjukkan ketidaktelitiannya.

3. Padukan data dan teori

Setelah poin penggunaan data (beserta pola dan konsistensinya) sudah selesai, serta pola teoritiknya sudah ketemu, maka langkah berikutnya adalah memadukan keduanya. Pola teoritik seperti yang sudah dijelaskan di poin 2 perlu dicarikan data yang mendukungnya, yaitu data-data faktual yang konsisten.

4. Berpedoman pada kriteria, bukan diri sendiri

Poin yang terakhir ini lebih pas disebut sebagai peringatan (warning), yaitu hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai keharusan atau larangan. Dalam memberikan justifikasi, kita harus menggunakan kriteri. Karena itu, teori adalah alat rujukan untuk menyandarkan fakta/data. Lalu apa yang harus dihindari? Menggunakan diri sendiri sebagai patokan. Contoh, mengatakan seseorang rajin, karena dirinya tidak serajin dia.

 

Demikian kira-kira cara praktis belajar observasi secara sederhana dan lebih mudah. Adakah tips atau strategi lain yang bisa ditambahkan?


Menjadi Psikolog Handal, Perpaduan Antara Ilmu dan Jam Terbang

Pengetahuan akan membuat orang lebih memahami. Ilmu membuat orang jauh lebih mumpuni. Namun akan lebih handal lagi jika diperkaya dengan jam terbang. Begitu juga dengan profesi sebagai psikolog.

Sebagian dari kita pasti pernah mengamati para psikolog dalam melakukan akasi, baik ketika melakukan asesmen maupun ketika memberikan intervensi atau perlakuan untuk mengatasi berbagai persoalan. Diantara kita mungkin berkomentar, “Wah hebat ya, baru lihat sekilas orangnya langsung bisa menceritakan dengan detil luar dalamnya”, atau komentar “Baru bertemu setengah jam saja, orang yang tadinya bermasalah berubah jadi lebih berdaya. Wah, hebatnya..!”. Pernah mengalami yang seperti ini?

Namun di sisi lain, ada juga komentar yang tak asing lagi di telinga, semacam “Kok sudah sekian tahun kuliah, rasanya masih kagok dalam mengenali orang, apalagi memberi bantuan”. Komentar yang ini berhubungan dengan ilmu yang dienyam di bangku kuliah. Mungkin ada banyak mahasiswa yang menghentikan ilmunya hanya sampai di penghujung ujian. Pasca IP di tangan, ilmunya tak sedikitpun yang nyantol di kepala. Mengalami yang seperti ini?

Lalu apa hubungannya antara menjadi psikolog handal dengan hasil perkuliahan? Hubungannya…. Jangan berkecil hati jika memang Anda mengalami diantara persoalan yang dicontohkan sebelumnya. Misalnya, merasa tidak handal dibanding temannya, atau selepas lulus kuliah merasa dirinya psikolog yang biasa-biasa saja.

Untuk menjadi ahli, psikolog memang harus ‘berkubang’ dengan pekerjaannya, larut dalam pekerjaan dengan hatinya. Idealnya, psikolog sudah larut dalam bidangnya semenjak menetapkan diri akan menempuh studi di psikologi. Jadi, calon psikolog sudah larut dengan buku-buku (dan sumber pengetahuan lain) yang sangat terhubung erat dengan bidangnya, melakukan berbagai penelitian yang sesuai dengan minatnya di psikologi, sampai berkutat dengan kasus yang dihadapi klien saat sudah menjadikan psikologi sebagai profesi nanti.

Menjadi ahli adalah perpaduan antara teori dan praktek. Bisa dimaklumi jika masih mahasiswa, kita menggunakan buku atau modul psikologi sebagaimana layaknya primbon saja. Ambil contoh saja sebagian mahasiswa profesi psikologi, menganalisis hasil tes dengan melihat satu per satu skor dan memasangkan dengan panduan yang ada di buku yang telah dipelajarinya. Tak mengapa, toh masih dalam taraf belajar juga. Namun ketika masih melakukan cara yang seperti ini, ada baiknya kalau di bawah bimbingan atau supervisi.

Namun ketika sudah menjadi psikolog, seiring berjalannya waktu dan banyaknya klien yang ditangani, percayalah bahwa psikolog lama-lama tak perlu lagi memperlakukan bukunya seperti primbon. Tak perlu lagi melihat satu per satu fenomena dan mencocokkan dengan panduan dalam bukunya. Ketika jam terbang sudah semakin tinggi, maka kepekaan kita akan terasah. Ketika melihat orang, bercakap dengannya, melihat hasil tesnya, bahkan ketika memberikan bantuan dalam bentuk konseling atau terapi, semua akan terasa mudah.

Hal ini adalah buah perkawinan antara ilmu dan pengalaman. Jika dirumuskan, mungkin begini jadinya: Keahlian/Kehandalan = Ilmu + Pengalaman (Jam Terbang). Namun demikian, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, rumus itu tak akan berjalan efektif tanpa totalitas atau pelibatan hati dalam setiap aksi yang kita lakukan. Seorang psikolog harus total dalam belajar dan total dalam mengaplikasikan. Maka percayalah, kita akan menjadi semakin ahli di bidang kita.

Nah, sekarang, apakah Anda sudah menjadi psikolog yang mengawinkan ilmu dan pengalaman dengan bekerja secara total?


Membangun Budaya PTPP Organik

Bahan atau benda organik adalah sesuatu yang lunak. Ini seperti memperlawankan kayu dan besi. Yang organik diwakili oleh kayu. Begitu juga dengan organisasi, perusahaan, atau instiusi, bisa berkembang dengan budaya besi atau budaya kayu.

PTPP adalah salah satu unit terapan di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. PTPP adalah organisasi atau institusi yang sedang dan selalu bertransformasi menuju kepada kondisi terbaik. Sebagaimana sebuah organisasi atau institusi yang sedang berkembang, membangun budaya organisasi adalah salah satu isu pentingnya.

Lebih gampangnya, budaya organisasi adalah jiwa yang membentuk spirit, atmosfir, dan performa organisasi. PTPP adalah organisasi pembelajar yang terus berubah menuju kepada kondisi yang paling sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.

Ok, agar lebih general, kita tidak akan membahas tentang PTPP. Di sini kebetulan yang menjadi cantolan (anchor) cotoh adalah PTPP.

Sebelumnya, sudah disinggung bahwa PTPP membangun budayanya disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. Selain sumber daya, amunisi yang turut membentuk budaya organisasi adalah visi dan misi. Jika unsur sumber daya dan visi misi dikawinkan, maka terbentuklah budaya organisasi.

Sumber daya berkaitan dengan apa yang dimiliki sebuah organisasi. Dalam memahami sumber daya, kita tidak cukup hanya mengenali apa saja yang dimiliki, tetapi juga karakteristik dari sumber daya yang dimiliki. Misalnya saja sumber daya utama, yaitu manusia. Jika pengelola organisasi mengenali karakteristik dari sumber daya manusia yang dimiliki, maka ia akan mudah menentukan, atmosfir seperti apakah yang akan dibangun dalam organisasi.

Visi dan misi adalah arah, kemana organisasi melangkah. Visi bisa ditentukan oleh pengeolola organisasi atau dibangun bersama sumber daya manusia yang ada di dalanya. Jika dihubungkan dengan sumber daya, maka visi bisa bersifat sangat intersubjektif atau menggabungkan berbagai visi pribadi dari orang-orang yang ada di dalamnya.  Jika pengelola perusahaan yang menentukan visi perusahaan, maka akan lebih baik jika pengelola bisa melakukannya secara objektif. Kenyataannya, memang banyak visi yang dibangun secara deduktif (top-down) sulit bersifat objektif.

Berdasar pada komponen sumber daya dan visi, maka PTPP sedang menuju menjadi institusi atau organisasi yang organik. Bagaimana organisasi yang organik itu?

Di awal sudah dibahas sedikit tentang sifat kayu dan besi. Organik adalah sifat lunak yang lebih melekat pada kayu, bukan besi. Kayu berasal dari tumbuhan atau tanaman. Maka sifat organik itu sangat sesuai dengan sifat tanaman. Bagaimana sifat tanaman?

Tanaman berpijak pada tanah. Tanaman menyerap air dan unsur hara melalui akarnya. Akar adalah alat berpijak sekaligus penyerap bahan baku. Begitu juga dengan PTPP, ia berpijak pada kekuatan sumber daya yang dimiliki. PTPP dibangun oleh anak-anak muda yang terdiri dari staf dan mahasiswa magang. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, memiliki berbagai kesibukan, beraktivitas dan berorganisasi di banyak tempat dan sebagainya. Mereka kaya input. Karena itu, organisasi yang organik akan menjadikan kekuatan-kekuatan tersebut sebagai pijakan.

Sebagaimana tanaman yang tumbuh menuju cahaya (matahari), maka PTPP juga tumbuh ke arah cita-cita, visi dan misi. Sebagai organisasi yang terus belajar menjadi organik, maka variasi sumber daya yang dimiliki juga menjadi sumber aspirasi. Karena itu orang yang ada di dalam PTPP juga berhak memberikan aspirasinya untuk pengembangna PTPP. Yang masih kesulitan dilakukan oleh PTPP adalah menyelenggarakan semacam petemuan puncak (summit) yang dihadiri oleh founder, staf, magang, para dosen sebagai sumber produk dan sebagai asesor, dan para klien. Tapi paling tidak, PTPP sudah mulai membangun produknya secara bottom-up. Menjadikan dosen dan perkuliahan sebagai sumber produk.

Namun transformasi yang dilakukan oleh PTPP memang tidak semulus membalik telapak tangan. PTPP terus menjadi organisasi pembelajar yang berusaha menghidupkan seluruh komponen yang ada di dalamnya secara organik.

Apakah organisasi Anda siap bertransformasi menjadi organisasi organik?


Yang Baru dan Fresh di PTPP, Seminar “Appreciative & Innovative Parenting”

Puas! Itu kata-kata emosional yang pas diperuntukkan bagi Seminar “Appreciative & Innovative Parenting” yang diselenggarakan PTPP pada 30 Mei lalu. Kesan ini tidak hanya tentang hasil, tapi proses yang memuaskan. Ingin tahu serunya?

Pada Hari Sabtu, 30 Mei yang lalu, PTPP menghelat sebuah acara seminar yang bertajuk “Appreciative & Innovative Parenting” di Aula Excellent with Morality, Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga. Acara ini dihadiri oleh 50 orang lebih, dari target 150 peserta. Namun peserta sejumlah itu kemeriahannya sudah setara dengan 200-an orang. Percaya? Yang kemarin hadir, pasti merasakan langsung serunya. Nah, rugi kan kalau tidak ikutan seminarnya PTPP?!

Seminar ini dirancang dalam waktu kurang lebih satu setengah bulan oleh para anak-anak muda berbakat dan kreatif yang magang di PTPP. Kenapa saya mengatakan berbakat dan kreatif? Ya, karena dengan tangan, kaki, mata, telinga, dan hati (lebay hehe) mereka, Seminar tersebut disulap dari kekeringan menjadi seminar yang basah. Kalau Anda ada di dalamnya, pastilah merasakan suasana seperti talkshow di televisi, seperti suasana talkshow dengan ratting tertinggi hehe. Tuh kan, rugi (lagi) kalau tidak ikut..

Peserta datang, langsung disuguhi performance apik dari anak-anak magang PTPP yang memainkan musik dan lagu-lagu yang rancak. Mereka yang terdiri dari Desty, Finy, Fety, Nuriel, dan Dony, sudah layak untuk menjadi band yang diproduseri oleh PTPP hehehe. Penampilan mereka membuat penonton ngeblend, menyatu dengan acaranya. Ini bukan saya yang ngomong lho. Ini langsung kesan dari para peserta dan komentar dari koordinator sie acara. Bahkan ada peserta yang bilang, “Gila, acara sebagus ini diseleggarakan oleh mahasiswa?!”, sambil menggelengkan kepala.

Penampilan dari band Desty cs ini tidak hanya disajikan di awal, tetapi juga saat break antar pemateri dan setelah seminar usai. Efeknya memang luar biasa, peserta berasa homy, kayak rumah sendiri. Mereka berbaur engan mc, moderator, pemateri dan para pengisi acara. Kalau kesulitan membayangkan, mungkin Anda tinggal membayangkan car kerja awak media di Trans Corp, dimana crew boleh tampil di layar kaca.

Ada lagi yang bikin seru, ada acara bagi-bagi doorprize. Sehabis kedua pembicara memaparkan teori dan berbagi pengalamannya, moderator memberikan kuis. Moderator memberikan pertanyaan yang jawabannya didapat dari pemaparan pembicara. Hadinya keren, 3 buah buku, 2 buku karya pembicara dan 1 buku saya, Daily Parenting. Yang tidak ikut, kehilangan kesempatan mendapatkan doorprize kan?!

Tidak hanya tampilan yang unik dan menarik, secara isi, seminar ini sungguh ciamik. Seminar yang digawangi oleh Rudi Cahyono (saya sendiri hehe) sebagai Ketua PTPP dan sekaligus menjadi moderator pada acara tersebut, juga berisi materi dan pemateri yang mumpuni di bidangnya, parenting. Bunda Abyz Wigati adalah seorang praktisi parenting yang menulis banyak buku, pendiri Pondok Parenting dan komunitas Good Parenting, serta Wanita Inspiratif 2013 versi Tabloid Nova.Sementara yang satunya lagi adalah Dr. Wiwin Hendriani, seorang penulis dan dosen Psikologi Perkembangan di Fakultas Psikologi Unair. Dua orang ini adalah perpaduan yang menarik. Satunya akademisi dan satunya praktisi. Tuh kan, rugi (lagi) kalau tidak ikutan.

Bunda Abyz dan Bu Wiwin adalah orangtua yang berhasil mengembangkan bakat anak-anaknya dan menjadikan anak-anaknya berkarakter. Anak Bunda Abyz ada yang menjadi pemain biola, blogger, dan komiknya sudah diterbitkan. Semua prestasi itu mereka raih di bawah usia 10 tahun. Begitu juga dengan Bu Wiwin, yang berhasil membuat anaknya menjadi pemain piano yang handal, dan memenankan banyak kompetisi piano. Jadi, para pembicara ini langsung menyuguhkan bukti, dan mereka tidak enggan berbagi. Nah, lagi-lagi rugi yang tidak ikut seminar ini.

Untuk suksesnya seminar ini, saya secara pribadi maupun sebagai Ketua PTPP, mengucapkan terimakasih kepada Magang Angkatan 4 dan 5 yang menjadi panitia, staft PTPP, Bu Abyz Wigati dan Bu Wiwin sebagai Pembicara, Radio Unair dan Event Surabaya sebagai Media Partner, Himpsi Jatim, Dekan Fakultas Psikologi Unair, Sekretariat Dekanat, Om Office Boys, Jukir, Divisi Sarana & Prasarana Kampus, serta Para Peserta yang menaruh kepercayaan kepada event-event PTPP.

Makanya, kalau PTPP bikin seminar, buruan daftar dan jangan sampai melewatkan kesempatan seru bersama kami.

Ehm, selanjutnya kita menadakan seminar apa ya enaknya? Ada ide?


Seminar Appreciative & Innovative Parenting. Rugi Kalau Terlewatkan!