Tipe Ibu kamu Perfeksionis, Unpredictable, Sahabat, Me-first, atau Complete?

Terapis Keluarga dan Psikolog Klinis di Los Angeles, Dr.Stephan Poulter menjelaskan bahwa terdapat lima tipe ibu dan kekuatan anak serta warisannya yang sesuai berdasarkan kelima tipe Ibu berikut :

1. Ibu Perfeksionis

Biasanya wanita yang terlalu
mengontrol, penakut dan cemas akan penampilan yang dianggap segalanya,
anak-anaknya akan cenderung terlalu kritis terhadap diri mereka sendiri, merasa
tidak mampu dan kosong secara emosional.

Untuk anak-anak dari Ibu yang
Perfeksionis…

Kekuatan Anda: Anda dapat memiliki rasa komitmen yang kuat dalam hubungan,
dan bertanggung jawab serta dapat diandalkan dalam segala hal yang anda
lakukan. Anda menghargai kerja keras dan ketekunan sebagai kualitas karakter
inti.

Warisan emosional: Anda selalu merasa bahwa pendapat orang lain jauh lebih penting daripada pendapat anda sendiri. Anda sering kali merasa lebih yakin bahwa dunia sedang mengawasi dan menilai anda

2. Ibu yang tidak bisa ditebak (unpredictable)

Karena cemas, marah, dan sangat
emosional, Ibu dengan tipe ini diliputi oleh perasaan sehingga gaya
pengasuhannya hanya didasarkan pada suasana hati. Tipe ini memiliki gaya paling
kacau dari kelima gaya. Seringkali Ibu tipe unpredictable
ini menciptakan masalah-masalah dan krisis dalam pikirannya, melalui emosi dan
hubungannya kemudian meneruskannya kepada anak-anaknya.

Untuk anak-anak dari Ibu yang tidak
terduga…

Kekuatan anda: Keterampilan yang sangat baik dan kemampuan berempati.
Seringkali menjadi motivator hebat, anda menawarkan dukungan emosional kepada
kolega serta teman dan keluarga.

Warisan emosional: Tumbuh dengan kebutuhan yang mendarah daging untuk menjaga orang dan emosional mereka, anda bisa kewalahan oleh emos seperti kemarahan, kecemasan dan depresi. Anda belajar sejak dini tentang cara membaca orang dan situasi, untuk mengelola perasaan yang kuat dari orang lain.

3. Ibu Sahabat terbaik

Ibu tipe sahabat senang
memperlakukan anak-anaknya secara setara untuk menghindari tanggung jawab dalam
menetapkan batasan. Ibu dengan tipe ini percaya hidupnya akan berakhir jika dia
melakukan pola asuh keibuan, sehingga ia menghindari peran tersebut.
Sebaliknya, baik anak maupun orang tua mengambil peran sebagai pasangan dan
kepercayaan emosional sehingga meninggalkan anak menjadi “motherless”. Pada situasi tersebut, kebutuhan emosional Ibu begitu
menguras tenaga, sehingga ia harus bergantung pada anak untuk memenuhinya.

Untuk anak-anak dari Ibu sahabat…

Kekuatan anda: Anda memahami pentingnya batasan antara orang tua, anak,
kolega da keluarga . Karena rasa “motherless”,
anda sering kali sadar bahwa anda yang memimpin dan mengambil peran yang
bertanggung jawab sebagai orang dewasa.

Warisan emosional: Anda mungkin merasa diabaikan secara emosional karena takut ditolak. Anda bisa merasa kesal dan getir dalam hubungan, cenderung merasa tidak dicintai dan kurang dihargai,

4. Ibu Me-first

Salah satu gaya pengasuhan yang
paling umum, me-first tidak dapat
memandang anak-anak mereka sebagai individu yang terpisah dan cenderung
mementingkan diri sendiri dan merasa tidak aman. Keturunan mereka akan belajar
sejak usia dini bahwa peran mereka adalah membuat ibu mereka bersinar.

Untuk anak-anak dari tipe Ibu me-first

Kekuatan anda: Anda sangat pandai mendukung orang lain dan intuitif serta
berwawasan luas dengan orang-orang di semua jenis hubungan. Anda setia dan
suportif, mampu menghargai kebutuhan orang lain dan memecahkan masalah.

Warisan emosional: Anda meragukan kemampuan pengambilan keputusan anda sendiri. Anda merasa sulit untuk mempercayai perasaan anda sendiri dalam hal apapun karena anda menganggap pendapat ibu lebih penting dan kuat daripada pendapat anda sendiri.

5. Ibu yang lengkap (complete)

Ibu tipe lengkap menggabungkan
elemen terbaik dari empat tipe lainnya. Seimbang secara emosional, ia dapat
melihat anak-anaknya sebagai individu dan membantu mereka mencapai kemandirian
mereka sendiri. Meskipun ia belum tentu menyempurnakan dirinya sendiri, tetapi
apa pun keadaan emosinya, dia berkomitmen menjadi Ibu, terlepas dari tanggung
jawab lain di luar rumah.

Untuk anak-anak dari Ibu lengkap…

Kekuatan anda: Karena anda merasa dicintai dan dipahami, anda dapat
mengambil risiko, merangkul perubahan dan memulai hubungan tanpa takut ditolak.

Warisan emosional: Anda akan memiliki kemampuan dan wawasan untuk menghargai bahwa orang lain, kolega dan anggota keluarga memiliki sudut pandang mereka sendiri. Anda akan mampu mengatasi tantangan, menjadi mandiri dan tidak tidak akan merasa terikat secara emosional dengan Ibu anda. (salma/dita)

Sumber : https://www.psychologies.co.uk/five-mother-types


PENTINGNYA MENJAGA EMOTIONAL HEALTH SAAT IBU HAMIL DAN SETELAH MELAHIRKAN

Seringkali
para ibu mengalami emosi yang sulit selama kehamilan, atau setelah kelahiran
seorang anaknya. Itu merupakan hal yang wajar jika ibu memiliki pikiran
negatif, rasa malu, ragu, atau cemas. Mungkin disebabkan karena khawatir
tentang proses kelahiran, kurang tidur, atau kekhawatiran tentang bagaimana
peran ibu sebagai orang tua.

Emotional Health adalah keadaan sehat,
sejahtera, dan puas. Ketika seorang ibu memiliki kesehatan emosional saat
hamil, ia akan lebih aktif, mampu mengatasi stres, memiliki tujuan, menjaga
hubungan, dan menikmati hidup. Menjaga kesehatan emosional memiliki manfaat
bagi ibu dan bayi nya. Kesehatan emosional yang baik juga membantu menjaga
hubungan positif dengan anak-anak yang lebih tua dan keluarga lainnya. Mereka
dapat membantu mendukung Anda dan pasangan melalui tantangan dalam menyesuaikan
diri dengan bayi baru.

Saat ibu
sedang hamil, bayi yang ada di dalam kandungannya juga akan dihadapkan pada
semua yang peristiwa yang dialami oleh ibu. Ini termasuk suara di lingkungan,
udara yang ibu hirup, makanan yang ibu makan, dan emosi yang ibu rasakan.

Saat ibu
merasa bahagia dan tenang, hal itu memungkinkan bagi bayi anda untuk berkembang
dalam lingkungan yang bahagia dan tenang. Namun, emosi seperti stres dan
kecemasan dapat meningkatkan hormon tertentu dalam tubuh ibu, yang dapat
memengaruhi perkembangan tubuh dan otak bayi nya

Sejak lahir, interaksi yang ibu lakukan dengan
bayi membantu membentuk cara dia untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku di
kemudian hari. Interaksi ini juga membantu membentuk ikatan emosional yang
penting antara ibu dan anaknya. Inilah mengapa menjaga kesehatan emosional pada
ibu menjadi sangat penting.

Kehamilan bisa menghadirkan berbagai macam emosi. Pada saat seorang ibu mencapai titik terendah, penting untuk menemukan cara kembali ke keadaan emosional yang baik. Jika ibu kesulitan menemukan kebahagiaan dalam kehamilan, penting untuk berbicara dengan orang yang mendukung dalam hidup si ibu serta dengan dokter atau psikolog. Mereka dapat membantu ibu menemukan sumber daya yang dibutuhkan sehingga dapat merasa lebih positif. Dengan berfokus pada perawatan diri dan tindakan kenyamanan fisik, ibu dapat merasakan kebahagiaan kembali selama masa kehamilan. (desipuspita/diarim)

Sumber:

https://www.healthline.com/health/pregnancy/pregnancy-happiness#takeaway


Review Film : Sabtu Bersama Bapak

Pada dasarnya, kehidupan berkeluarga memiliki waktu-waktu tertentu dimana setiap anggotanya dapat merasakan emosi seperti bahagia, cemas, maupun sedih. Dalam kejadian yang tidak dapat terelakkan, seperti kematian, setiap anggota keluarga dapat mengalami fase yang berbeda-beda bagi masing-masing individunya. Untuk orang-orang yang ditinggalkan, rasa kehilangan sudah pasti hinggap untuk beberapa waktu. Namun, bagaimana dengan orang yang meninggalkan? Kematian memang tidak bisa diprediksi, tetapi untuk anggota keluarga yang tahu bahwa ia akan meninggalkan keluarganya, apa yang sebenarnya dirasakan?

            Dalam film “Sabtu Bersama Bapak”,
penonton dapat mengetahui perasaan tokoh “Bapak” (Abimana Aryasatya) sebagai
seseorang yang harus meninggalkan keluarganya lebih cepat. Disini, tokoh
“Bapak” divonis oleh dokter bahwa ia menderita kanker dan hanya menceritakan
hal tersebut kepada istrinya yang bernama ibu Itje (Ira Wibowo). Kedua anak
mereka yaitu Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahendra) yang saat adanya
vonis tersebut masih duduk di bangku sekolah dasar tidak tahu menahu mengenai
penyakit yang diderita oleh Bapak.

Dikarenakan
penyakitnya, Bapak merasa sedih dikarenakan ia terancam tidak bisa melihat
kedua anaknya beranjak dewasa dan tidak bisa mengiringi mereka dalam fase-fase
perkembangan di hidupnya. Bapak merasa memiliki kewajiban untuk dapat menuntun
dan menjadi tempat berbagi cerita sekaligus pemberi saran ketika kedua anaknya
mengalami kesulitan dalam fase tertentu. Dalam mengatasi kesedihan tersebut,
Bapak membuat sejumlah video yang berisikan pesan-pesan untuk kedua anaknya.

            Setelah kematian bapak, Satya dan
Cakra mulai menonton video pesan-pesan tersebut setiap hari Sabtu, sepulang
mereka sekolah. Pesan-pesan tersebut ditonton dari mulai mereka masih duduk di
bangku sekolah dasar sampai keduanya beranjak dewasa. Pesan yang ada sekiranya
mengenai saran dalam menghadapi masalah hidup, cerita yang dilontarkan Bapak,
dan keduanya meresapi pesan-pesan yang diberikan oleh Bapak.

Namun,
pada film ini, tidak hanya berfokus mengenai apa yang dirasakan bapak, ada pula
saat-saat tertentu bahwa setiap anggota keluarga yang masih melanjutkan
hidupnya juga mengalami masalah tertentu. Seperti pada Satya yang memiliki
masalah saat membina rumah tangga bersama istrinya, lalu Cakra yang tidak
kunjung menemukan jodoh, serta ibu Itje yang sedang merahasiakan masalah besar
dalam hidupnya.

            Pesan-pesan yang diberikan Bapak
memang awalnya dibuat untuk membantu kedua anak serta istrinya jika menemukan
kesulitan tertentu dalam kehidupan. Tetapi disini, ketiga individu tersebut
menghadapi masalah yang berbeda-beda pula, dimana dibutuhkan kemampuan
intrinsik masing-masing individu dalam menghadapi masalahnya masing-masing,
tidak hanya sekedar bergantung dengan saran yang sudah diberikan Bapak, tapi
turut mengimplementasikan makna dari saran-saran tersebut di kehidupan.

            Di awal menyaksikan film “Sabtu
Bersama Bapak”, sebagai penonton, saya mengira bahwa alur dari film ini akan
terkesan lambat dan berputar di fase yang itu-itu saja. Tokoh “Bapak” sendiri
menurut saya cukup unik, mungkin dikarenakan tokoh tersebut selalu muncul dalam
alur film, namun tidak “terjun langsung” dalam menghadapi permasalahannya.
Ibaratnya, tokoh “Bapak” memang terkesan menjadi tokoh utama (dilihat dari
judul film ini), tetapi seiring berjalannya kehidupan anggota keluarganya,
tokoh “Bapak” terasa seperti pemeran pendukung yang dengan setia akan
“mengawasi” dan “melindungi” anggota keluarga tidak peduli bagaimana kondisinya.
Ditinggalkan seseorang yang tersayang untuk selamanya memang bukan hal yang
mudah, namun disini tokoh “Bapak” turut menemani anggota keluarganya dalam
proses merelakan hal tersebut.

Two people looking at the camera

Description automatically generated

Film “Sabtu Bersama Bapak” selain dikemas secara apik dari segi alur juga turut memberikan banyak pesan moral yang dapat diambil untuk semua individu. Adanya tokoh “Bapak” yang terus mengiringi keluarganya meskipun sudah tidak bersama lagi, membuat penonton dapat mengambil pesan moral bahwa waktu bersama keluarga merupakan waktu yang penting untuk dihabiskan, tidak untuk dibuang begitu saja. Lalu, meskipun terdapat “absen” salah satu anggota keluarga, sudah semestinya kita harus tetap melanjutkan kehidupan serta menghadapi masalah tertentu dibandingkan terus menerus merasakan duka. Mengapa demikian? ketidakhadiran secara fisik memang tidak bisa diubah lagi, namun kenangan serta pesan tertentu yang membekas di masing-masing diri dapat dijadikan pelajaran dan panduan kita dalam melanjutkan hidup bukan?

cr. Annisa Mia


Risk From Faults

Now it comes.
A while ago, we clearly see life is fine.
There’s nothing, no need to worry before.
‘Cause we think we are some super human or somewhat having a magic inside.
But, nope.
That’s the stupidest thing we ever thought.
We see that we are all just a human,
we had the same chance to die and live like another.
Now, the invisible weapon comes.
We are not ready for that!
And we won’t figure it out before.
We do not have any shield nor another weapon to attack.
It’s too late, we just need help from the time at last.
There must be no regret for this, because it’s the risk from our fault.
We need to trust one another, be together to end this.
I hope y’all know this thing already,
Good luck and try to live as long as possible!

– diarim


Hari Yang Tidak Biasa

Tik… tik… tik…
Kupandangi jam dinding sedari 1 jam yang lalu,
hanya hening dan sunyi senyap yang kudapat.
Sungguh aku tak terbiasa dengan keheningan ini.
Rasanya kebahagiaanku terkekang,
sekarang dia entah ada dimana.
Kerinduanku juga sangat membuncah,
ingin lagi melihat lalu lalang manusia di kampus ungu, serta tatapan hangat orang-orang di sana.
Ini menyedihkan dan melelahkan bagiku.
Rasanya malu tidak bersyukur atas kehidupan sebelumnya.
Dimana masih bisa merasakan bertemu dengan sesama, bertukar senyum, dan kesibukan yang sering dikeluhkan.
Apalagi saat ini,
tiada lagi kemenangan waktu maghrib yang menyenangkan.
Rasanya aku seperti tidak bisa untuk melewati hari sulit ini.
Tetapi aku juga tidak bisa membiarkan nyawaku terbunuh untuk saat ini.
Tak ada cara lain dan tak ada pilihan untukku, keluargaku, dan semua orang.
Selain menguatkan diri dengan rasa syukur atas kehidupan hari ini.
Bersyukur masih dapat menjalani hari yang tidak biasa ini dengan raga yang masih kuat untuk bertahan.

– diarim


Siswa Jalur Zonasi Juga Berpotensi

Pelatihan hari ke-2 di Kelas IPA SMAN 1 Kediri

Banyak persoalan yang
menjadi keluhan sekolah ketika sistem zonasi diterapkan dalam proses penerimaan
siswa. Sekolah yang dulunya hanya menerima siswa-siswa dengan kriteria baik
secara akademik, kali ini ditantang untuk dapat mengelola input yang
bervariasi. Tidak hanya tentang kemampuan dalam belajar, variasi juga terjadi
pada karakteristik dan motivasi siswa.

Persoalan ini juga
dialami oleh sekolah yang merupakan klien Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP), salah satunya adalah
SMA Negeri 1 Kediri. Mereka mendapatkan beberapa siswa yang mengalami kesulitan
beradaptasi dalam menyerap materi pelajaran yang diberikan guru. Selain itu,
para siswa tersebut juga mempunyai motivasi yang tidak terlalu kuat untuk
berpartisipasi dalam proses belajar. Mereka kadang lebih suka nongkrong
di kantin, tempat parkir, hingga tidak mengumpulkan tugas belajar. Berdasarkan
dari hasil  observasi pihak sekolah, sebagian besar dari siswa-siswa tersebut adalah mereka
yang masuk dari jalur zonasi. Simpulan ini didapatkan, karena sebelum sistem
zonasi diberlakukan, persoalan serupa tidak pernah terjadi.

PTPP sebagai lembaga
yang menjadi partner atau konsultan dari SMA yang bersangkutan, berusaha
mencermati data yang diberikan oleh pihak sekolah. PTPP memegangh prinsip bahwa setiap anak
diciptakan dalam kondisi sempurna dengan keunggulan masing-masing. Berbekal
spirit ini, ditemukan hukum sebab akibat yang bisa berbolak-balik. Perilaku
yang tidak kooperatif dengan pembelajaran tidak selalu merupakan dampak dari
sistem zonasi. Kemungkinan yang terkuat adalah perilaku tersebut dipicu sebagai
kompensasi atas persepsi siswa dari jalur zonasi atas kemampuan mereka sendiri. Anggapan
orang dan kesulitan mereka dalam menyesuaikan diri dengan anak yang punya
prestasi akademik lebih baik, membuat mereka lebih memilih menarik diri.
Perilaku tidak kooperatif menjadi alternatif yang lebih terhormat daripada
mengikuti proses belajar dan berusaha mengumpulkan tugas tetapi dinilai tidak
baik dan dianggap bodoh. Kembali lagi hal ini berkaitan dengan perlakuan
sekolah yang perlu dibenahi secara sistemik.

Namun untuk SMA Negeri 1
Kediri, telah mengambil langkah yang sangat bagus. Mereka melakukan berbagai
upaya untuk mendukung keberhasilan belajar siswa dari jalur zonasi. Keberadaan
guru pendamping kelas, menyebut para siswa dengan kelas excellent,
hingga meminta konsultan (dalam hal ini PTPP) untuk menjadi pendamping bagi
keberhasilan belajar mereka. Karena itulah, pihak sekolah meminta PTPP untuk
melakukan serangkaian kegiatan, dan salah satu yang sudah terselenggara sebagai
awalnya adalah pelatihan untuk siswa jalur zonasi.

Tentu saja pelatihan ini
diawali dengan identifikasi kebutuhan yang bersumber dari informasi guru dan
pengelola siswa zonasi. PTPP
mendapatkan informasi profil para siswa sebagai input yang akan dikelola
melalui pelatihan. Dari hasil identifikasi kebutuhan, PTPP memberikan pelatihan
penguatan konsep diri siswa.

Pelatihan Penguatan Konsep Diri Siswa Zonasi

Pelatihan hari ke-1 kelas IPS SMAN 1 Kediri

Pelatihan penguatan konsep diri untuk siswa zonasi
di SMA Negeri 1 Kediri dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu untuk kelas IPS dan IPA.
Masing-masing sesi membutuhkan waktu 4 jam, sehingga pelatihan ini dilakukan dalam dua hari.

Hari pertama diawali
dengan kelas IPS yang menjadi pesertanya, kemudian di hari kedua barulah kelas
IPA juga memperoleh pelatihan yang sama. Selama proses pelatihan, fasilitator
tetap melakukan pengamatan untuk melihat keterlibatan siswa dalam belajar.
Beberapa anak memang
mengalami kesulitan untuk menyerap materi yang diberikan. Namun dengan sistem mentoring
kelompok dan bimbingan langsung dari fasilitator, siswa yang mengalami
kesulitan dapat memperoleh pemahaman yang sama. Selebihnya, siswa-siswa jalur
zonasi punya potensi yang tidak kalah bagusnya dengan anak-anak yang lain.

Sesi pelatihan terdiri dari
tiga bagian. Pertama, siswa mendapatkan materi pengenalan diri. Dengan
mengenali dirinya, mereka akan mengidentifikasi keunggulan atau kekuatannya.
Keunggulan ini selanjutnya dapat menjadi modal yang diberdayakan untuk belajar.
Sesi kedua, peserta diajak untuk membuat visi dalam hidupnya. Mereka diberikan
keleluasaan untuk bermimpi dan membangun cita-citanya. Mereka melakukan
wawancara untuk majalah
masa depan dan membuat pidato undangan reuni di tahun 2030. “Dengan melakukan
proyeksi melalui cara-cara yang imajinatif, diharapkan siswa lebih membuka diri
untuk membuat impian setinggi-tingginya”, demikian kata Rudi Cahyono yang
menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut. Sesi ketiga, peserta dibimbing
untuk membuat rencana aksi selama sepuluh tahun ke depan. Mereka diminta
membuat kegiatan utama di setiap tahunnya, mulai dari 2020 sampai dengan 2030.
Rancangan aksi ini akan menjadi panduan untuk melihat progres yang dibuat oleh
siswa. Evaluasi pencapaian didampingi oleh PTPP dan pihak sekolah.

Selama dua kali
pelatihan, peserta mendapatkan kesan positif atas kemajuan yang mereka peroleh.
Peserta menjadi semakin mengenali potensi atau kekuatannya. Dengan demikian
hal ini menjadi modal mereka
untuk lebih percaya diri dalam belajar serta menuju kepada cita-citanya.

Untuk agenda yang akan datang, nantinya akan ada tindak lanjut dari hasil pelatihan
kali ini, selain itu
PTPP juga merancang kegiatan untuk pelatihan penalaran bagi siswa kelas
percepatan (rudicahyo/Lala).


PTPP: Kami Belajar, Kami Mengembangkan Diri, Kami Punya Idealisme

Kegiatan PTPP banyak, klien kami juga beraneka ragam, mulai dari institusi sampai pribadi. Sebagai organisasi profesional, kami mengelola klien, kami diberikan kompensasi atas jasa layanan yang kami berikan, itu pasti. Tapi kami lebih dari sekadar berdagang servis. Kami belajar, kami mengembangkan diri, dan kami punya idealisme.

Kalau PTPP melihat kembali perjalanan dalam setiap tahunnya, maka… Eh, kok kesannya mau menulis kaleidoskop ya. Tidak masalah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, menulis kaleidoskop sekaligus berefleksi.

PTPP memang memiliki segudang kegiatan dan kegiatan tersebut dapat dipolakan. Memang, pola yang paling tampak adalah kegiatna asesmen, atau yang biasanya orang bilang psikotes. Sedangkan kegiatan lain yang diakses oleh publik adalah seminar dan pelatihan. Untuk pelatihan lebih banyak bersifat in house atau permintaan khusus dari klien organisasi atau institusi. Jadi memang permintaan terbesar adalah psikotes, diantaranya untuk pemetaan potensi, tes bakat minat untuk peminatan IPA/IPS dan perguruan tinggi, program khusus percepatan (semacam akselerasi), kurikulum pengayaan dan sebagainya.

Sementara itu, untuk layanan yang nonpsikotes, seperti seminar, pelatihan atau workshop, jumlahnya tidak sebanyak psikotes. Lantar keduanya dapat dibandingkan, termasuk oleh orang yang dapat melihatnya. Perbedaan jumlah layanan yang terjadi di lapangan, kadang menimbulkan persepsi atau penilaian tersendiri. Tentu saja penilaian ini didasari oleh keyakinan yang dianut berkenaan dengan psikotes atau nonpsikotes. Salah satu frame yang dipakai adalah tentang pengembangan diri. Sayangnya, frame ini dimaknai sebagai hitam putih, memisahkan layanan psikotes sebagai non pengembangan diri, sementara yang nonpsikotes sebagai layanan yang berdampak pada pengembangan diri. Padahal kami memegang keyakinan bahwa asesmen melaui psikotes itu ditujukan untuk pemetaan, yang bisa menjadi pondasi untuk pengembangan diri.

Berbicara tentang pengembangan diri, yang paling hangat kami lakukan belakangan ini adalah open recruitment magang. Rekrutmen magang yang kami lakukan bukan sekadar mencari tentara atau mesin. Kami mencari orang yang ingin mengembangkan diri melalui PTPP. Seperti yang dikatakan oleh Ketua PTPP, Rudi Cahyono, bahwa semua yang mendaftar sebagai calon magang di PTPP adalah baik. Sayangnya, PTPP harus menerima dengan jumlah tertentu. Karena itu, PTPP harus memilih yang paling cocok diantara semua yang baik tersebut. Kecocokan ini tidak melulu disesuaikan dengan selera PTPP, tapi juga kemungkinan untuk bersinergi dan berharmoni, baik dengan PTPP sendiri maupun antar personel magang nantinya.

PTPP berangkat dari keyakinan, bahwa setiap orang itu istimewa, dapat berkembang dan dikembangkan. Namun demikian, kami tetap melakukan serangkaian seleksi, mulai dari seleksi berkas, psikotes, pra-training, FGD, dan wawancara. Bahkan untuk yang sudah keterima nantinya, juga akan mendapatkan fasilitas pengembangan diri berupa on the job training atau OJT.

Tidak hanya dari sudut pandang calon magang yang diseleksi. Untuk para senior atau kakak magang sekalipun, kami melakukan pengembangan diri. Dalam proses rekrutmen dan seleksi magang baru, mereka dibekali dengan berbagai keterampilan, mulai dari observasi, wawancara, sampai melakukan judgment. Kami mengadakan briefing, diskusi, dan melatih diri.

Jadi, PTPP benar-benar organisasi profesional, tidak hanya profit-sional. Ini juga salah satu bentuk upaya PTPP untuk menjaga budaya unit sebagai tempat untuk mengembangkan diri.

Sudah siap berpartner dengan PTPP?


Tahukah Kamu, Ada Banyak Cara Efektif utuk Membentuk Perilaku Anak?

Orangtua maupun guru pasti kenyang dengan pengalaman mendidik anak atau muridnya, termasuk untuk membentuk atau membiasakan perilakunya. Tak jarang orangtua atau guru dibikin pusing oleh perilaku anak atau siswa. Karena itu, setiap orangtua atau guru wajib tahu bagaimana membentuk dan mengondisikan perilaku anak atau siswanya.

Reward dan Punishmen, dua istilah yang dipatika familiar dalam pendidikan anak. Atau istilah lainnya adalah hadiah dan hukuman. Ini adalah pilihan cara yang sering digunakan oleh para guru dan orangtua. Namun seberapa efektif hadiah dan hukuman bagi pengembangan pribadi anak kita?

Dalam banyak kelas, workshop, atau pelatihan yang kami lakukan, kami selalu mewanti-wanti bahwa penggunaan reward dan punishment itu perlu hati-hati. Karena sifat reward dan punishment sangat berbeda satu sama lain. Boleh disimak di video Daily Parenting berikut ini,

Karena reward dan punishment memiliki karakteristik yang khas, maka perlu hati-hati dalam menerapkannya, lebih-lebih penerapan hukuman. Bahkan tokoh behaviorisme, Skinner, tidak menyarankan penggunaan punishment. Karena itu perlu hati-hati dalam menggunakannya. Perlu keahlian tertentu untuk menerapkannya.

Ternyata, disamping hadiah dan hukuman, ada banyak alternatif cara yang bisa dilakukan, dan tidak melulu berorientasi pada tubuh dan perilaku luar semata. Untuk mewujudkan disiplin pada diri anak, kita perlu memperhatikan bahwa aspek pada diri anak tidak hanya tubuh yang bergerak dan kasat mata. Anak juga memiliki pikiran dan hati yang turut mempengaruhi pembentukan dan pembiasaan perilakunya.

Ingin tahu bagaimana membangun disiplin positif pada anak? Jangan lewatkan seminar yang keren ini. Seminar ini menghadirkan penulis Buku “Anak Bukan Kertas Kosong” dan “Bakat Bukan Takdir”, Bukik Setiawan, M.Psi. Pembicara yang satunya juga tidak kalah menarik, yaitu seorang dosen Psikologi Pendidikan, Praktisi Pendidikan Anak, Penggiat PUAD, serta pendiri dan konsultan Laboratorium Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Dr. Nur Ainy Fardhana Nawangsari, M.Si., Psikolog.

Daftarkan diri Anda Segera! Seminar ini terbuka untuk umum, terutama penggiat pendidikan anak, mahasiswa, orangtua, guru.

Seminar PTPP 2016


Boleh Saja Bekerja, tapi Jangan Sampai Kurang Piknik

Berlibur sama pentingnya dengan bekerja, yang konon menguasai hajat hidup kita. Berlibur juga memiliki peran bagi kesehatan, memiliki peran pula bagi akselerasi kerja kita selanjutnya. Karena itu, boleh saja bekerja, tapi jangan sampai kurang piknik.

Setiap hari bekerja, lebih-lebih mengerjakan hal yang sama, maka kita butuh aktivitas penyela. Apa lagi kalau bukan liburan. Karena itu, selalu luangkan waktu liburmu. Ini mengingat betapa pentingnya arti libur, seperti yang tulisan di rudicahyo.com, “Manfaat Berlibur untuk Kesehatan Psikologis“. Karena itulah, PTPP juga tidak melupakan untuk berlibur. Nah, kali ini PTPP akan berbagi kebahagiaan melalui foto-foto saat liburan ke Banyuwangi. Semoga tidak ngiler ya.. Eh, kalau ngiler ndak papa juga sih, karena dengan begitu, kalian juga dapat segera merencanakan liburan hehehe.

Gimana petualangan kita, bikin ngiler kan? Karena itu, jangan mau kalah, rencanakan dan realisasikan liburanmu. Bikin aja rencana liburan mingguan. Kalau lolos alias tak terlaksana, tenang, masih ada lliburan bulanan. Kalau masih lolos juga, masih ada liburan tahunan. Ah, kelamaan ya, bikin aja per triwulan atau tiap semester. Tapi kalau liburan kita sih ndak perlu nunggu lama. Tunggu petualangan kita minggu depan di Semarang ya… Ada yang mau ikut?


Pelatihan Dasar Berpikir Kreatif dan Belajar Efektif

Setiap orang itu kreatif. Percaya? Melalui pelatihan dasar berpikir kreatif dan belajar efektif, PTPP membantu mengasah dan mengembangkan kreativitas untuk belajar. Seperti pelatihan yang diselenggarakan PTPP untuk siswa-siswa SMA Negeri 1 Kediri berikut ini.

Untuk kali kedua PTPP dipercaya meberikan ‘treatment’ untuk siswa-siswa SMA Negeri 1 Kediri untuk memfasilitasi pelatihan berpikir kreatif dan belajar efektif. Sudah menjadi style Rudi Cahyono, trainer dari PTPP, selalu membuat sesuatu yang berbeda dan baru. Jadi, meskipun sudah pernah dilakukan, tapi selalu ada pengembangan dan perubahan, baik secara isi maupun metode. Karena itu, andai peserta mengikuti berkali-kali sekalipun, selalu ada pengetahuan dan keterampilan baru yang mereka peroleh.

Sebenarnya, pelatihan semacam ini juga sudah pernah diberikan oleh Rudi Cahyono kepada para instruktur di Universitas Airlangga. Hanya bedanya, siswa menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk diri sendiri. Sementara pelatihan yang ditujukan bagi instruktur, digunakan untuk mengajari orang lain, biasanya para dosen. Kali ini, pelatihan ditujukan untuk siswa program khusus percepatan.

Pelatihan ini terbagi menjadi beberapa menu materi, yaitu berpikir kreatif dan ciri-ciri

tindakan kreatif, berpikir konstruktif, berpikir asosiatif, klasifikasi dan kategorisasi, dan terakhir mengelola memori. Menurut Rudi (panggilan Rudi Cahyono), pelatihan ini idealnya diberikan selama 3-5 hari. Namun karena sekolah menyediakan waktu hanya sehari, maka Rudi mengelola materi yang padat itu menjadi satu hari pelatihan.

Meskipun diberikan hanya satu hari, pelatihan dasar berpikir kreatif dan belajar efektif tetap dapat memenuhi sasaran yang diharapkan. Pelatihan ini didampingi oleh ketua paguyuban orangtua/walimurid dan penanggungjawab program percepatan. Mereka menyatakan kepuasannya dan berniat untuk menyelenggarakan bagi siswa yang lain.

Rudi Cahyono memilih dasar berpikir kreatif pada kemampuan konstruksi dan asosiasi. Dua kemampuan berpikir ini kemudian dikembangkan untuk mengasah kemampuan dalam melakukan klasifikasi dan kategorisasi. Kata Rudi, Kemampuan dasar ini sudah bisa menjadi modal untuk dapat belajar lebih mudah dan cepat.

Pelatihan berpikir kreatif ini dilakukan dengan metode yang bervariasi. Peserta tidak hanya duduk diam dan mendengarkan. Mereka banyak melakukan praktek, baik secara mandiri maupun berkelompok. Selain itu, pelatihan juga dipadukan dengan game-game seru. Rudi dibantu oleh 3 asisten dalam membawakan permainan-permainan.

Ingin mengasah kemampuan berpikir kreatif juga?